Posts

I Still Believe in You, Die Deutscher Nationalmannschaft

Image
Jerman kalah lawan Italia (lagi). Nangis kejer guling-guling cangkul sawah deh. Nggak deng, bohong. Alhamdulillah (?) saya punya lebih banyak hal yang membuat kekalahan Jerman jadi bagaikan sejumput merica di atas tumpukan kekhawatiran saya yang lain sebagai main dish-nya. Misalnya, metpen saya yang sampai kini belum dikumpulin karena dosen pembimbing saya belum bales apa saya masih boleh ngumpulin atau nggak. Juga hasil UAS semester enam yang saya jalani dengan pintar mode : totally off. Dan lain-lain yang kalau saya ceritakan, well...nobody cares, most of them were the result of my fault anyways, haha. Italian food. Forever yum~ (source : theitaliandishblog.com) Sedih sih. YA IYALAH SEDIH. I love Die Deutscher Nationalmannschaft like I love my own country's national team. Maybe even more (karena Jerman lebih sering tampil di kompetisi mayor, saya jadi lebih sering nonton penampilan mereka daripada nonton timnas Indonesia, dan seperti kata orang Jawa : witing tresno jalar...

Lightbulb Moment : Orang Tua, Masa Depan, dan Penipuan

Image
Dua hari ini, saya menginap di Antapani. Alhamdulillah, saya jadinya punya banyak quality time bersama Ibunda. Apa yang terjadi jika dua wanita berbeda generasi disatukan dalam beberapa hari? Well , nggak jauh-jauh dari ngobrol-ngobrol dan nostalgia. Dan nonton Indonesian Idol. Hahaha. Di tengah-tengah sesi komentarin performa kontestan Indonesian Idol, Mama tiba-tiba membelokkan pembicaraan, "Kamu kan waktu kecil suka nyanyi-nyanyi gitu ya, Mbak. Kirain nanti gedenya bakal jadi artis, hahaha. " Saya, yang saat ini kemampuan olah vokalnya cuma sedikit di atas lumba-lumba radang amandel, cuma bisa tertawa miris. Bukan karena nyesel nggak jadi artis, tapi karena tersadar akan sesuatu. Ternyata selama dua puluh tahun saya hidup, saya sudah melakukan banyak penipuan terhadap orang tua saya. Yeah, penipuan berkaitan dengan akan jadi apa saya di masa depan. Seperti yang mama saya katakan di masa lalu, saya waktu kecil suka nyanyi. Ada lantai yang sedikit aja lebih tinggi di...

Not-so-philosophical question : batch 1

The question is : if you think you have found the love you want for a lifetime, would you give up? Would you leave the chance of standing at the end of this part of your story, thinking 'it's worth all the wait, struggle, and emotional turmoil', even if you just have the slimmest chance? Would you just leave...like that? Or would you stay, for the faintest glint of hope, for the bubbly dream that might burst in the end of this day? Even if that means you will expose yourself to your darkest fear, the chance of feeling unimaginable pain that will left you crumbled in pieces? Call me irrational, whatever, but... I choose to stay. ...and hang on for dear life.

Mengingatkan Ruh

Image
Ruh, masih ingatkah kau? Pada lapangan di samping rel kereta Pasar malam dan bianglala Jalan aspal ke batas cakrawala Sepetak sawah yang beda hijaunya, juga hymne-hymne yang asing melodinya Oh, mungkin kau juga ingat pada peta dan ular tangga Ucapan maaf dwibahasa dan lompatan-lompatan tertahan di udara Buah-buah jati sore-sore kita tendangi Debat tentang tube pasta gigi serta mana yang lebih penting : menyerupai atau melengkapi? Kita membaca hingga tinta-tinta resap ke darah. Mimpi-mimpi kecil yang kita bagi diam-diam tumbuh tinggi. Serpih kata-katamu merajut kemelut. Tempias gerimis membisik tentang kerlap yang mungkin khayali tapi goyah bukan pilihan, Ruh goyah tak pernah jadi pilihan... Ruh, masih ingatkah kau? Sebab aku kini disesaki memori Cigadung, 29 Mei 2012 Vera F. Maharani P.s. Hei, kamu. Kamu sering bertanya, ada apa dengan ekspresi saya. Mengejutkan buat saya, kadang, karena saya pikir perasaan saya suda...

Sepenggal Ode untuk Psikologi Unpad 2009

Image
(Semalam di Jatinangor, udara beraroma tawa dan pesta. Duduklah sejenak, Kawan, biar kita ramu kembali rapsodi emosi yang menyertai kita ke sini) Jiwa-jiwa kembara yang manis Dari mana datangnya kau? Mau ke mana larinya kau? Sebagian tersesat, sebagian menemukan jalannya Yang kutahu pasti, pada titik ini mimpi-mimpi berbeda 'kan kita pupuki sama-sama Gedung yang semula bisu, tanah dan batu-batu jadi saksi kita perlahan memijak, tertatih menjejak hingga akhirnya menjelma, mengada mencatatkan nama 2009. Hari ini. Di sini. Apakah dalam hidup sebelumnya kujumpai suara-suara itu? Gegap gempita dari ketiadaan tangan bertepukan, kaki berhentakan di naungan gemintang, beratus hati dipertautkan 2009. Hari ini. Di sini. Kita adalah perjumpaan yang tak hilang Kita adalah cinta yang tak lekang Kita tak mengucap selamat tinggal, kita hanya menunda sapa yang lebih gemilang 2009. Hari ini. Di sini. Juga di masa depan (kusesap lagi udara itu, kunikmati...

The Girl Who Doesn't Know How to Give Up

Even when I am tired, I will go on To withdraw is not even an option Let the chill run down my spine everyone has their own suffering, let me savour mine " Maybe i f I stand there with unwavering feeling , happiness will wave at me hello again?" Jatinangor, 3 Mei 2012 Vera F. Maharani

A Dawn Message

Image
Pada akhirnya, orang yang kita cintai adalah orang yang paling berhak tahu bahwa dirinya dicintai. sometimes, I think how funny it is, that I have shared the so-called secret about my feeling for you with my friends (and I have A LOT of friends, thank you very much), while you are still...well...oblivious. Or so I thought. Padahal orang yang seharusnya paling merasakan manfaat cinta itu adalah orang-orang yang terlibat dalam cinta itu sendiri, ya kan? Para pecinta. Orang-orang yang dicinta. Apa yang sudah saya lakukan dalam hidup kamu, hei? Apa yang sudah kamu terima dari saya? Sebandingkah dengan kebahagiaan dan kesempatan bertumbuh yang sadar tak sadar kamu antarkan ke depan pintu saya? Sudahkah saya membawa manfaat untukmu hari ini, selain doa-doa yang saya daraskan untukmu tiap dini hari?  ... yes. at the very least I want you to know that you are worth every teardrops, every prayers, every tangled emotions. You are so worth it. -deine Vera, jetzt und hoffentl...