Posts

Showing posts with the label Vera Maharani

To Whom It May Concern

Image
Source Let us have inscription of our name on our rings, written in Tengwar, in elvish language of Sindarin Let us call them "the rings who ruled them all" And whisper to each other "my preciousss" in Gollum's voice Laugh at me, but let us have it anyway Greet me in foreign languages of your choice because that sounds nice, and I will compose for you a haiku over breakfast Watching sun rise   illuminates the backyard--   toast or cereal? Let smiles and warmth and light flood our living space and happiness and laughter and all those warm embrace Bear with me and my two left feet, and my inability to cross the street I will learn to swim too, and bike, and drive, and to accept defeat Know that every day for me is one step further out of fear and it would be so helpful if you are being near Lay beside me through all the book chapters I'm not willing to close through all the football matches I'm not willing to miss Gently...

Surat Terbuka Buat Kakak Ganteng

Image
Dari Dermaga     A breath away, a breath away You’re only just a breath away Di penghujung subuh kau angkat sauh pada angin yang melirih, pada jeriji kabut yang merepih pada samudera teduh tempat kau larung segala dera perih Ziz, kami hanya sampai dermaga. Langit baru semu biru, perlahan melindap lentera di buritanmu Terlihatkah olehmu wajah-wajah kami? Mata-mata yang melangut Tersentuhkah oleh suara-suara kami? Yang tak letih menggapaimu, biar sayup sungguh Mendamba jadi angin yang mengembus layarmu, rasi-rasi bintang yang memandu jalanmu                 Ziz, kami hanya sampai dermaga Di tepi kami bersila, masih terpancang tiang-tiang tempatmu berlabuh Tak goyah oleh ombak yang membawamu menjauh                 Ziz, kami masih di dermaga       ...

Apa yang mau kusampaikan padamu, Sayangku?

Apa yang mau kusampaikan padamu, Sayangku? Hingga kurangkai sajak menguntai, kelindan dengan bisu dalam hikayat kita yang sepintas lalu Rembulan pucat berjingkat ke lembah kata-katamu Menerpa wajah kita yang tengadah, menanti dalam lelah Aku lapuk, kau pun lapuk ditelan langit yang renta "Rupanya telah kita penggal sajak-sajak itu dalam jeda yang salah!" Kau menatapku, gigil subuh terbit di matamu cangkir teh madu yang kuseduh bergeretakan di tanganmu Lalulah lalu kau dalam hembusan angin yang menarikmu Lantas apa yang mau kusampaikan padamu, Sayangku Abjad-abjad titik koma masih berserakan di sepanjang jarak bibirmu dan aku Cilawu, 10 Februari 2013 Vera F. Maharani

Yang Menetap dan Yang Singgah

Image
Photo Credit : Crossroads" (C) by www.martin-liebermann.de Ingin kututup jendela-jendela Biar gerimis menipis jadi pemandangan terakhir di penghujung senja ini. Dan kau, Sayangku, tandaskan teh hangatmu sebelum malam memeluk. Sebelum kau pinjam selimutku. Berkemul di hadapan perapianku. Berkemaslah, biar kupinjamkan payungku kuantar kau ke persimpangan, penghujung kita janji berjalan. Kuterabas hujan paku-paku. Masih lama sampai tujuan, kita tak bisa terpikat, terjerat, tertambat. Larilah kau seperti takdirmu. Jelmalah kau seperti inginmu. Aku akan melambai dan kau bisa terus. Kau bisa terus. Kau yang singgah, berpamitanlah... Cilawu, 27 Januari 2013 Vera F. Maharani

Menuju Rumah Ruh

Image
Ruh, ingatkah di jalan ini kita mengayun langkah menuju rumahmu? Dituntun pendar bintang utara pada sejumput langit di atas kepala kita "Kau akan lihat lebih banyak lagi cahaya itu ketika kita sampai di beranda dan tengadah." Kau sulut lentera. Di balik pundakmu aku berkata :  "Ayolah." Lalu gerimis turun, Ruh, terpelanting di trotoar batu Musim merangkak beku. Tulang-tulangku gigil membiru "Kita harus terus maju," bisikmu Kau cerita di rumahmu ada kursi goyang kue jahe hangat di atas loyang dan gulir tasbih yang berlanjut biar malam membuta mengabut Ruh, di jalan yang kita susuri ribuan rumah jadi rumahmu mengepul asap pendiangan yang kita nyalakan semalaman itu. Jatinangor-Bandung 7 Desember 2012 Vera F. Maharani Gambar diunduh dari : http://watchusplaygames.files.wordpress.com/2012/06/in-love-couple-at-train-tracks-holding-hands-beautiful.jpg

Penghujung

Image
Harusnya saat ini saya tekun berkutat dengan laporan inventori, tapi... I DON'T KNOW, MAYBE I HAVE ATTENTION DEFICIT DISORDER... well... yah... nggak juga. Saya akan dipecat dari status mahasiswa oleh dosen neuropsikologi kalau saya bilang ini adalah simptom ADD. Mungkin sebenarnya saya sedang jenuh, butuh katarsis atau curhat terselubung, atau saya terjebak (lagi) di dalam perangkap prokrastinasi, atau mungkin ketiganya. Intinya, saya memilih bikin cerpen sebagai displacement dari impuls-impuls saya yang tidak tersalurkan. Ini saya ngomong apa sih, malah rambling soal konsep Freud -,- Anyways, di bawah ini adalah cerpen hasil so-called prokrastinasi produktif saya hari ini. Please do enjoy!   Penghujung a fic by Vera F. Maharani Waktu berjalan dengan lajunya yang tidak kita pahami. Tahu-tahu sekarang kita sudah duduk bersisian di sini, di sebuah bangku taman yang biasa kita kunjungi jika kantuk enggan menghampiri. Kamu dalam balutan kaus lengan panjang abu...

Seserpih Puisi dari Kelas Analisis Eksistensial

Image
Photo by Paul Cantrell from http://farm4.static.flickr.com/3225/3085304070_8efc419882.jpg Di pertengahan malam, bulan timbul tenggelam Langkah-langkah kian tersendat, kisah-kisah kian tercekat "Aku rasa ini surga, hanya surga pinjaman..." Jatinangor, 20 September 2012 Vera F. Maharani Notes: Ini puisi yang saya buat pada kelas Analisis Eksistensial. Bang Iqbal (dosen saya) meminta kelas untuk membuat tiga baris puisi yang terinspirasi dari kehidupan selama seminggu terakhir. Baris pertama menuturkan tentang waktu, baris kedua tentang aktivitas, dan barisan ketiga tentang perasaan. Puisi ini sedianya akan jadi bahan untuk menganalisis diri dalam bingkai filsafat eksistensial. Puisi ini tentu saja ada latar ceritanya. Karena saya tahu jelas waktu, peristiwa, dan rasa macam apa itu sebelum menerjemahkannya jadi metafora, sebenarnya saya bingung harus menganalisis apa... Kuliah Aneks sebenarnya rame, rasanya bebas (yah, namanya juga eksistensial)....

Kau adalah kidung yang kujanjikan pada subuh

Image
kepada sebuah nama Kau adalah kidung yang kujanjikan pada subuh pada aubade jengkerik dan orkestra daun-daun jambu Namamu syair yang tertera di titian angin saat terang dan gelap berkelindan di batas tidur dan terjaga Aku di sini bersimpuh, menghitung rindu membilang jarak dan waktu Kau naik ke langit, terus ke langit menuju semburat jingga Jatinangor-Bandung, 19 September 2012 Vera F. Maharani di ujung sana tanganmu mengulur serupa cahaya dan aku... aku menjangkau ke mana kau berada

Mengingatkan Ruh

Image
Ruh, masih ingatkah kau? Pada lapangan di samping rel kereta Pasar malam dan bianglala Jalan aspal ke batas cakrawala Sepetak sawah yang beda hijaunya, juga hymne-hymne yang asing melodinya Oh, mungkin kau juga ingat pada peta dan ular tangga Ucapan maaf dwibahasa dan lompatan-lompatan tertahan di udara Buah-buah jati sore-sore kita tendangi Debat tentang tube pasta gigi serta mana yang lebih penting : menyerupai atau melengkapi? Kita membaca hingga tinta-tinta resap ke darah. Mimpi-mimpi kecil yang kita bagi diam-diam tumbuh tinggi. Serpih kata-katamu merajut kemelut. Tempias gerimis membisik tentang kerlap yang mungkin khayali tapi goyah bukan pilihan, Ruh goyah tak pernah jadi pilihan... Ruh, masih ingatkah kau? Sebab aku kini disesaki memori Cigadung, 29 Mei 2012 Vera F. Maharani P.s. Hei, kamu. Kamu sering bertanya, ada apa dengan ekspresi saya. Mengejutkan buat saya, kadang, karena saya pikir perasaan saya suda...

Sepenggal Ode untuk Psikologi Unpad 2009

Image
(Semalam di Jatinangor, udara beraroma tawa dan pesta. Duduklah sejenak, Kawan, biar kita ramu kembali rapsodi emosi yang menyertai kita ke sini) Jiwa-jiwa kembara yang manis Dari mana datangnya kau? Mau ke mana larinya kau? Sebagian tersesat, sebagian menemukan jalannya Yang kutahu pasti, pada titik ini mimpi-mimpi berbeda 'kan kita pupuki sama-sama Gedung yang semula bisu, tanah dan batu-batu jadi saksi kita perlahan memijak, tertatih menjejak hingga akhirnya menjelma, mengada mencatatkan nama 2009. Hari ini. Di sini. Apakah dalam hidup sebelumnya kujumpai suara-suara itu? Gegap gempita dari ketiadaan tangan bertepukan, kaki berhentakan di naungan gemintang, beratus hati dipertautkan 2009. Hari ini. Di sini. Kita adalah perjumpaan yang tak hilang Kita adalah cinta yang tak lekang Kita tak mengucap selamat tinggal, kita hanya menunda sapa yang lebih gemilang 2009. Hari ini. Di sini. Juga di masa depan (kusesap lagi udara itu, kunikmati...

The Girl Who Doesn't Know How to Give Up

Even when I am tired, I will go on To withdraw is not even an option Let the chill run down my spine everyone has their own suffering, let me savour mine " Maybe i f I stand there with unwavering feeling , happiness will wave at me hello again?" Jatinangor, 3 Mei 2012 Vera F. Maharani

Terbata, Pada Ruh

Ruh, mungkin benar kau telah menjadi intisari. Di api unggunmu aku berjingkat menari. Di gerimismu aku terpancang. Dikuyupi beribu angan gemilang Kuhitung rindu itu dengan jarak berdepa-depa antara kita. Waktu menggulung bisikan di telinga. "...jika kau murca raga ini tinggal kerangka..." Maka kucabuti tulang-tulangku, kutabuhi genderang memanggilmu. Kau telah jadi kabut kelindan dengan hampa. Tiada dan ada menjelma jadi kamu, Ruh. Jatinangor, 13 April 2012 Vera F. Maharani

Kau?

Kau, wajah yang akrab Kaukah itu yang kujumpai pada hari penciptaanku? Kaukah itu yang berdenyar-denyar dalam nadiku? Kaukah itu yang menuju-Nya dengan menggamit lenganku? Kaukah itu? Kaukah itu? Jatinangor, 29 Februari 2012

Menanyai Ruh

Image
Di manakah cinta itu, Ruh? Hidupkah ia? Bernafaskah ia? Serupakah ia dengan udara mencekik bila tak ada? Bersemayamkah ia? Berkelanakah ia? Ke bilik-bilik jantungku menumpang aliran pembuluhku? Di manakah cinta itu, Ruh? Terekamkah ia? dalam loncatan listrik syarafku bergelung di lembah-bukit otakku? Berceracaukah ia? Menabuhi gendang telinga dengan denging bahasa rahasia? Sembunyikah ia? di balik kelopak mataku menyisip ke sela-sela rindu serupa bayangan abu   wajahnya tak kutahu? Ah! Entah di mana dia Cinta itu, Ruh... Cigadung, 24 Februari 2012 Vera F. Maharani credit picture : http://www.zawaj.com/askbilqis/dua-to-get-my-love-back/

Surat-Surat Tak Bernama

Image
Kularung surat-suratku pada samudera. Semua tak bernama. Ratusan 'halo' dan 'apa kabar' tak pernah terbaca. Kata-kata cuma rembesan tinta, untuk dihirup ikan-ikan Serpihan kertasku nanti terdampar bersama kerang-kerang berserakan Surat-suratku yang tak bernama dicium ombak, dilumat gelombang. Pantai tak pernah bertanya itu tangis untuk apa Buih-buih pecah tak pernah tahu itu air mata untuk siapa Pangandaran, 14 Januari 2012 Vera F. Maharani credit picture : http://blog.travelpod.com/travel-photo/heli79/1/1279978227/sunset-pangandaran-beach.jpg/tpod.html

Yang Tak Terucap

Image
Kepada sebuah nama   Sepertinya (hanya sepertinya) aku rindu padamu, Sayangku Pada keasingan yang akrab itu, pada dendang dalam bisu itu Dan pada rahasia di telaga matamu yang aku pura-pura tahu Untuk beberapa jenak, di hatiku bergulir lagi sebuah sajak Dalam lubukku ia menyorak. Ia bergerak. Ia teriak...   "Kau masih saja desau angin di telingaku. Semerbak kesturi di hidungku Geletar dingin di sumsumku. Guncangan gempa pada inti keberadaanku Sepertinya, Sayangku... Hanya sepertinya..." Tapi kata-kata menghantam dinding udara. Dalam hampa. Dalam lena Tak tersampaikan walau sebisik saja, walau selirik saja, dan kini kita... Kembali pada apa kita semula. Kembali ke mana kita pernah berada Oh, betapa senyapnya! Oh, betapa redupnya! Antapani, 30 September 2011 Vera F. Maharani

Di Negeri Ini Semua Bernyawa

(Sebenarnya terlalu siang untuk kita berkubang di sofa tua di pojok ruangan. Terlalu banyak yang harus dilihat di dunia dan kotak usang di hadapan kita tidak cukup bukan? Tapi baiklah, beringsut perlu tenaga, lagipula… lebih enak begini, berjarak dari realita…) Di negeri ini semua bernyawa. Batuan dan ‘pohonan juga baru cerita tentang desau angin dan warna, O, hijau sejuk di mata! “Siapa tak kenal, zamrud khatulistiwa!” begitu kita bangga Samudera biru lubuk hati Ibu Pertiwi Sepotong surga di muka bumi Begitu sampai kita kenal api, kita kenal dengki Kita kenal cara-cara meracun diri Di negeri ini semua bernyawa. Manusia, tentu saja. Pemimpin dunia, makhluk Tuhan paling mulia Orang-orang penuh senyum; bijak, ramah, dan ceria Bagaimana tidak? Alam telah lama mengundang kita dalam jamuan Di mana ongkosnya hanya berupa jabatan tangan… Begitu sampai kita kenal permainan baru : tuhan-tuhanan Jiwa manusia beda ha...

Belenggu

Kepada sebuah nama Sayangku, aku mengingatmu pada jendela-jendela basah berkabut pada senja, dan hujan, dan semerbak wangi rumput pada bangku-bangku dingin yang dahulu berpenghuni di sepanjang jalan kita biasa menyanyikan hidup. Semua terasa begitu lamanya kurasa bagaikan tak pernah ada Namun, tepat saat itu! Wajahmu terlukis lagi, dan kuhidupkan kembali jiwa-jiwa manis yang tak pernah kita temui petak-petak langit yang tak kita tanami mimpi jalan-jalan yang tak kita susuri, tempat-tempat yang tak kita jelajahi Mereka itu, Sayangku, imaji-imaji kecil yang kini memanggil... Jatinangor, 12 Agustus 2011 Vera F. Maharani

Hari Ini, Setelah Menyelami Gie

Image
Soe Hok Gie (1942-1969) The epitaph on his grave read : "Nobody knows the trouble I see, nobody knows my sorrow." Gie...I'm ashamed to admit that I don't either Hari Ini, Setelah Menyelami Gie Maafkan aku, aku tak mampu gelisah dalam dunia kecilku yang tanpa masalah Aku baik-baik saja, hidup baik-baik saja Derita adalah sayup-sayup nun jauh di seberang... dan risaumu adalah negeri Atlantis dalam legenda Ada namun asing. Asing. Kau menggedor jendelaku dan berkata, "Yang kau lihat itu palsu, palsu!" Cahaya terang yang kulihat itu adalah seribu kunang-kunang yang besok pagi mati Dan apa yang selama ini meresahkanku itu cuma nyeri segigitan kutu! Yang kukenal cuma sepetak tanah di bawah kakiku Sejumput langit di atas kepalaku Dan realita di luar sana, manis pahit getirnya menunggu sampai aku berani membuka mata Gadis kecil malang, apa yang kamu tahu tentang dunia? Tidak ada! Tidak ada! Bandung, 5 Juni 2011 Vera F. Maharani Se...

Can I?

Image
"Can I sit beside you?" 'Cause you seem so lonely too Smiling, laughing, but don't really feel like it Struggling to stay in a place you don't really fit " Can I walk with you?" Share some laughs and maybe your precious thoughts about all your shoulds, and maybes, and what ifs Just pour it all, I'm not tired Just tell me all, I won't be bored "Can I love you?" I won't be a burden for you, I'm trying hard not to Let me keep those feelings, those hope for the opportunity to gaze into your eyes, lovingly to whisper your name in every prayer, softly... to tell you how precious you are and how happy I can be with you this far So, Dear, can't I? Damri DU-Jatinangor, 1 Juni 2011 Vera F. Maharani Credit picture : www.hafizmokhtar92.blogspot.com