Posts

and in his eyes you see nothing. no sign of love behind the tears. cry for no one. a love that should have lasted years...

so you could actually sent one's mood spiraling down with only two sentences (three, if you count onomatopoeia chuckle as one sentence) written in all non-capital letter, innocent for every eyes except for those which tainted with (hopefully) unfounded jealousy. so, this painful pang who has been my friend for a while...I say hello to you again. I might cuddle only with this blog while I shun away all social media... Pain has an element of blank; It cannot recollect When it began, or if there was A time when it was not.  It has no future but itself, Its infinite realms contain Its past, enlightened to perceive New periods of pain. "Paint has an element of  blank", by Emily Dickinson

Book for Breakfast : Inheritance

Image
Note : Since I read the English version of this book, please pardon me for using mix of Bahasa Indonesia and excessive English in this so-called review without paying proper attention to grammar and such. I tend to think in the same language as the book I read...but then again, not perfectly. May contain *a little bit* spoiler. You have been warned. Inheritance (The Inheritance Cycle Book 4) by Christopher Paolini  My rating for this book : 3 from 5. Okay, 3,4964861516524615 from 5, but I still count that as 3. "It started with Eragon... It ends with Inheritance" Finally, the torture of waiting for the fourth book of Inheritance cycle ends! HOORAY! *throws confetti* Guess, who is this green dragon? I waited for this book for ages, and when I finally receive the news that the English version of this book was published around November 2011, I was excited. Tetap, saya nggak langsung lari ke toko buku untuk membeli buku ini karena (1) kocek tidak mengizi...

Book for Breakfast : The Reader

Image
Hola, Paradiso! It's been a while, I know , hehe. Selama liburan ini, saya banyak membaca! Hore! Terima kasih banyak pada aplikasi GO-BOOK di handphone saya (yang saya kasih nama Senorita --hahaha penting banget Ver), yang membuat saya nyaman membaca e-book, terutama dalam format e-pub. Karena dompet saya hilang di Bogor ( well, story for later...) , saya jadi nggak punya duit buat beli buku baru dan akhirnya saya pun berpaling pada e-book yang sudah lama dikacangin di handphone saya. Saya jadi ingat masa lalu, zaman ayah saya masih suka beliin saya buku (kalau sekarang buku sudah termasuk pengeluaran rekreasi bulanan dari kocek saya sendiri, huhu). Supaya kegiatan membaca menjadi lebih produktif, ayah dan ibu saya mengeluarkan kebijakan yang mengharuskan saya mengetik resensi dari buku yang baru saja dibeli. Sampai resensi itu selesai, nggak bakal dibeliin buku baru, walaupun saya ngemis-ngemis sambil ngelapin kaca mobil (oke, lebay). Untuk beberapa lama peraturan ini ber...

I Still Believe in You, Die Deutscher Nationalmannschaft

Image
Jerman kalah lawan Italia (lagi). Nangis kejer guling-guling cangkul sawah deh. Nggak deng, bohong. Alhamdulillah (?) saya punya lebih banyak hal yang membuat kekalahan Jerman jadi bagaikan sejumput merica di atas tumpukan kekhawatiran saya yang lain sebagai main dish-nya. Misalnya, metpen saya yang sampai kini belum dikumpulin karena dosen pembimbing saya belum bales apa saya masih boleh ngumpulin atau nggak. Juga hasil UAS semester enam yang saya jalani dengan pintar mode : totally off. Dan lain-lain yang kalau saya ceritakan, well...nobody cares, most of them were the result of my fault anyways, haha. Italian food. Forever yum~ (source : theitaliandishblog.com) Sedih sih. YA IYALAH SEDIH. I love Die Deutscher Nationalmannschaft like I love my own country's national team. Maybe even more (karena Jerman lebih sering tampil di kompetisi mayor, saya jadi lebih sering nonton penampilan mereka daripada nonton timnas Indonesia, dan seperti kata orang Jawa : witing tresno jalar...

Lightbulb Moment : Orang Tua, Masa Depan, dan Penipuan

Image
Dua hari ini, saya menginap di Antapani. Alhamdulillah, saya jadinya punya banyak quality time bersama Ibunda. Apa yang terjadi jika dua wanita berbeda generasi disatukan dalam beberapa hari? Well , nggak jauh-jauh dari ngobrol-ngobrol dan nostalgia. Dan nonton Indonesian Idol. Hahaha. Di tengah-tengah sesi komentarin performa kontestan Indonesian Idol, Mama tiba-tiba membelokkan pembicaraan, "Kamu kan waktu kecil suka nyanyi-nyanyi gitu ya, Mbak. Kirain nanti gedenya bakal jadi artis, hahaha. " Saya, yang saat ini kemampuan olah vokalnya cuma sedikit di atas lumba-lumba radang amandel, cuma bisa tertawa miris. Bukan karena nyesel nggak jadi artis, tapi karena tersadar akan sesuatu. Ternyata selama dua puluh tahun saya hidup, saya sudah melakukan banyak penipuan terhadap orang tua saya. Yeah, penipuan berkaitan dengan akan jadi apa saya di masa depan. Seperti yang mama saya katakan di masa lalu, saya waktu kecil suka nyanyi. Ada lantai yang sedikit aja lebih tinggi di...

Not-so-philosophical question : batch 1

The question is : if you think you have found the love you want for a lifetime, would you give up? Would you leave the chance of standing at the end of this part of your story, thinking 'it's worth all the wait, struggle, and emotional turmoil', even if you just have the slimmest chance? Would you just leave...like that? Or would you stay, for the faintest glint of hope, for the bubbly dream that might burst in the end of this day? Even if that means you will expose yourself to your darkest fear, the chance of feeling unimaginable pain that will left you crumbled in pieces? Call me irrational, whatever, but... I choose to stay. ...and hang on for dear life.

Mengingatkan Ruh

Image
Ruh, masih ingatkah kau? Pada lapangan di samping rel kereta Pasar malam dan bianglala Jalan aspal ke batas cakrawala Sepetak sawah yang beda hijaunya, juga hymne-hymne yang asing melodinya Oh, mungkin kau juga ingat pada peta dan ular tangga Ucapan maaf dwibahasa dan lompatan-lompatan tertahan di udara Buah-buah jati sore-sore kita tendangi Debat tentang tube pasta gigi serta mana yang lebih penting : menyerupai atau melengkapi? Kita membaca hingga tinta-tinta resap ke darah. Mimpi-mimpi kecil yang kita bagi diam-diam tumbuh tinggi. Serpih kata-katamu merajut kemelut. Tempias gerimis membisik tentang kerlap yang mungkin khayali tapi goyah bukan pilihan, Ruh goyah tak pernah jadi pilihan... Ruh, masih ingatkah kau? Sebab aku kini disesaki memori Cigadung, 29 Mei 2012 Vera F. Maharani P.s. Hei, kamu. Kamu sering bertanya, ada apa dengan ekspresi saya. Mengejutkan buat saya, kadang, karena saya pikir perasaan saya suda...