Posts

Surat Terbuka Buat Kakak Ganteng

Image
Dari Dermaga     A breath away, a breath away You’re only just a breath away Di penghujung subuh kau angkat sauh pada angin yang melirih, pada jeriji kabut yang merepih pada samudera teduh tempat kau larung segala dera perih Ziz, kami hanya sampai dermaga. Langit baru semu biru, perlahan melindap lentera di buritanmu Terlihatkah olehmu wajah-wajah kami? Mata-mata yang melangut Tersentuhkah oleh suara-suara kami? Yang tak letih menggapaimu, biar sayup sungguh Mendamba jadi angin yang mengembus layarmu, rasi-rasi bintang yang memandu jalanmu                 Ziz, kami hanya sampai dermaga Di tepi kami bersila, masih terpancang tiang-tiang tempatmu berlabuh Tak goyah oleh ombak yang membawamu menjauh                 Ziz, kami masih di dermaga       ...

Apa yang mau kusampaikan padamu, Sayangku?

Apa yang mau kusampaikan padamu, Sayangku? Hingga kurangkai sajak menguntai, kelindan dengan bisu dalam hikayat kita yang sepintas lalu Rembulan pucat berjingkat ke lembah kata-katamu Menerpa wajah kita yang tengadah, menanti dalam lelah Aku lapuk, kau pun lapuk ditelan langit yang renta "Rupanya telah kita penggal sajak-sajak itu dalam jeda yang salah!" Kau menatapku, gigil subuh terbit di matamu cangkir teh madu yang kuseduh bergeretakan di tanganmu Lalulah lalu kau dalam hembusan angin yang menarikmu Lantas apa yang mau kusampaikan padamu, Sayangku Abjad-abjad titik koma masih berserakan di sepanjang jarak bibirmu dan aku Cilawu, 10 Februari 2013 Vera F. Maharani

Yang Menetap dan Yang Singgah

Image
Photo Credit : Crossroads" (C) by www.martin-liebermann.de Ingin kututup jendela-jendela Biar gerimis menipis jadi pemandangan terakhir di penghujung senja ini. Dan kau, Sayangku, tandaskan teh hangatmu sebelum malam memeluk. Sebelum kau pinjam selimutku. Berkemul di hadapan perapianku. Berkemaslah, biar kupinjamkan payungku kuantar kau ke persimpangan, penghujung kita janji berjalan. Kuterabas hujan paku-paku. Masih lama sampai tujuan, kita tak bisa terpikat, terjerat, tertambat. Larilah kau seperti takdirmu. Jelmalah kau seperti inginmu. Aku akan melambai dan kau bisa terus. Kau bisa terus. Kau yang singgah, berpamitanlah... Cilawu, 27 Januari 2013 Vera F. Maharani

Book for Breakfast : Elizabeth and Her German Garden

Image
Elizabeth and Her German Garden by Elizabeth von Arnim My rating: 4 of 5 stars Another lovely read by Elizabeth von Arnim, an English author specialized in writing introspective and witty stories with a hint of how dreadful a life of a woman could be, if that woman is not free to choose for herself.  I'm not going to lie, that word 'German' on the title is one of the main reason I want to read this book. The other reason, I have read 'Vera' (another von Arnim's book that I read for invalid reason), which I enjoyed immensely. It seems that I'm in love with Von Arnim's choice of theme and style of writing.  Dalam novel semi-memoir ini, Elizabeth von Arnim menuturkan kisah Elizabeth, seorang ibu rumah tangga (Hausfrau), juga istri bangsawan, yang tinggal di kawasan pedesaan Jerman. Buku ini mungkin terinspirasi dari pernikahan kedua Elizabeth von Arnim dengan seorang bangsawan Prusia, Count von Arnim, yang  berujung pada perceraian. Count von Arnim...

Tentang 'Disobat'

Image
"NAON SIA PELANG-PELONG? REK AING ‘SOBAT’?" — Rocktaroza Disobat lebih sakit daripada dikepret. Maksudnya ini: oo… sobat, maafkan aku mencintainya..(Padi)  (diambil dari tumblr -nya) Si geloooo. Hahaha. Ada-ada aja. Iya pisan Dir, beralasan gini yah kita teh jadi adik-kakak? Pemikiran serupa gini. Love you, you AB-normally cutie pie adorkable little brother! A very pinch-able mini Vera and Adira. Dari dulu pengen masang foto ini. Kesampean. YAY. Deine Vera

Lovely Kalengikansarden : Tristia Riskawati

Image
I have this sudden urge to write about a friend. A highly inspirative one, if I might add. Entah ada kesambet apa, hari ini saat saya berselancar ria di dunia maya, saya menengok tumblr seorang teman yang sudah lama tidak saya tengok karena saya sibuk bergalau, bermasygul, dan bergundah hati. Ehm. Pokoknya saya sibuk. Izinkan saya memperkenalkan teman saya itu. Diizinin lah ya, blog saya ini, hahaha.  Diambil semena-mena dari album facebooknya. Ga apa-apa ya Tris :p Namanya Tristia Riskawati, biasa dipanggil Tristi. Menggambarkan dirinya sebagai Avatar dari Kerajaan Bumi, walikota Bikini Bottom (dua periode), penjaga gawang di suatu klub sepakbola di planet Merkurius, Kaisar Perempuan Pertama Kerajaan Bawah Laut Cina Selatan, dan yang terutama, abdi Allah . Saat ini KTM-nya mencatat status sebagai mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung Jatinangor, tepatnya jurusan Jurnalistik (angkatan disamarkan). Aktif di Salman, Himpunan, dan who ...

Menuju Rumah Ruh

Image
Ruh, ingatkah di jalan ini kita mengayun langkah menuju rumahmu? Dituntun pendar bintang utara pada sejumput langit di atas kepala kita "Kau akan lihat lebih banyak lagi cahaya itu ketika kita sampai di beranda dan tengadah." Kau sulut lentera. Di balik pundakmu aku berkata :  "Ayolah." Lalu gerimis turun, Ruh, terpelanting di trotoar batu Musim merangkak beku. Tulang-tulangku gigil membiru "Kita harus terus maju," bisikmu Kau cerita di rumahmu ada kursi goyang kue jahe hangat di atas loyang dan gulir tasbih yang berlanjut biar malam membuta mengabut Ruh, di jalan yang kita susuri ribuan rumah jadi rumahmu mengepul asap pendiangan yang kita nyalakan semalaman itu. Jatinangor-Bandung 7 Desember 2012 Vera F. Maharani Gambar diunduh dari : http://watchusplaygames.files.wordpress.com/2012/06/in-love-couple-at-train-tracks-holding-hands-beautiful.jpg