Hidup dan Romantisme Persahabatan
Ada masanya saya merasa sahabat hanyalah romantisme yang mewah. Suatu kata yang menyenangkan dan puitis untuk disebut-sebut namun tak terjangkau dan kosong. Bukan, bukannya saya menafikan keberadaan sahabat. Ya, mereka ada, dan mereka penting. Siapa yang akan saya hubungi pertama kali kalau saya mengalami kejadian yang menurut saya pantas diceritakan, baik senang maupun sedih? Sahabat. Siapa yang akan saya hubungi pertama kali kalau saya butuh bantuan, apa pun itu? Sahabat. Siapa yang akan rela menemani saya dalam kegiatan paling tak penting sekalipun? Sahabat. Boleh dibilang mereka telah sangat berkontribusi dalam keberhasilan saya bertahan dalam mekanisme seleksi alam. Boleh jadi, tanpa bantuan kecil di masa lalu yang mungkin bahkan tidak mereka sadari, saya sudah minggat dari dunia ini. Atau minimal melemah untuk kemudian tersapu ke kolong-kolong, tempat mereka yang terpinggirkan menunggu mati. Terkadang saya pikir sahabat adalah jiwa-jiwa manis yang datang, singgah, kemu...